Game Digital Minta Deposit? OJK Tasikmalaya Peringatkan Bahaya Terselubung Bagi Pelajar

Game Digital Minta Deposit? OJK Tasikmalaya Peringatkan Bahaya Terselubung Bagi Pelajar | Red

Tasikmalaya, AddNews.id – Kemudahan akses teknologi digital kini membawa ancaman baru yang kian mengintai generasi muda di wilayah Priangan Timur. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya menyoroti maraknya praktik perjudian online (judol) yang kini tak lagi hanya hadir lewat situs taruhan terang-terangan, melainkan menyusup halus melalui berbagai aplikasi game digital yang sering dimainkan anak-anak dan remaja.

Hal tersebut diungkapkan Kepala OJK Tasikmalaya, Nofa Hermawati, usai gelaran Media Gathering Priangan Timur di Kamandara Resto, Jalan AH Nasution, Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jumat (21/08/2026).

Nofa menjelaskan, sejumlah game digital saat ini kerap menjebak pengguna muda dengan skema meminta deposit atau pengisian uang agar bisa melanjutkan permainan atau menambah fitur. Pola transaksi seperti ini dinilai sangat berisiko membentuk kebiasaan finansial berbahaya sejak usia sekolah.

“Sekarang banyak generasi muda yang tanpa sadar terpapar melalui game yang mereka mainkan. Ada game yang kemudian meminta deposit, ketika ingin menambah permainan mereka kembali mengeluarkan uang,” ujar Nofa.

Menanggapi fenomena ini, OJK menegaskan bahaya judi online tidak bisa diselesaikan hanya dengan imbauan semata. Diperlukan penguatan literasi keuangan agar masyarakat, khususnya pelajar, mampu mengenali pola transaksi yang berpotensi menjerumuskan.

Salah satu langkah konkret yang digencarkan OJK Tasikmalaya adalah program GENIUS (Gerakan Edukasi dan Literasi Keuangan) yang menyasar pelajar usia 15 hingga 17 tahun. Lewat program ini, para siswa didorong untuk mengelola keuangan secara bijak, rajin menabung, serta tidak mudah tergiur tren konsumtif maupun gengsi kepemilikan barang.

“Anak-anak bukan hanya harus pintar secara akademis, tetapi juga harus pintar mengelola keuangan. Mereka perlu memahami bahwa masa depan membutuhkan perencanaan keuangan,” tegasnya.

Meski OJK tak menampik kesulitan menarik angka pasti nilai transaksi judol secara digital di Priangan Timur, kecenderungan masyarakat yang terpapar dinilai terus mengalami peningkatan.

Tak hanya kalangan pelajar, OJK mencatat paparan judol juga merambah ke berbagai lapisan lain, mulai dari pegawai negeri sipil (PNS), pekerja informal, hingga ibu rumah tangga. Oleh karena itu, OJK telah menyiapkan roadmap edukasi berbasis kelompok—mulai dari tingkat desa bersama Babinsa dan Karang Taruna, majelis taklim, hingga pembekalan literasi bagi warga yang mendekati masa pensiun. EQi