
Tasikmalaya, AddNews.id – Di balik ketenangan Kampung Situ Beet, Kelurahan Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, tersimpan kisah panjang tentang salah satu warisan budaya kebanggaan masyarakat.
Kampung ini sejak lama dikenal sebagai sentra kerajinan anyaman bambu yang telah menghidupi banyak keluarga sekaligus menjadi bagian dari identitas budaya Kota Tasikmalaya.
Namun, di tengah laju pembangunan dan perubahan zaman, keberlangsungan tradisi ini kini menghadapi tantangan yang kian besar.
Salah satu persoalan utamanya adalah semakin terbatasnya ketersediaan bahan baku bambu. Alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman dan aktivitas lainnya menyebabkan rumpun-rumpun bambu yang dahulu mudah dijumpai, kini kian menyusut.
Kondisi ini memaksa para perajin mendatangkan bahan baku dari luar daerah dengan biaya yang lebih tinggi, yang pada akhirnya membebani keberlanjutan usaha mereka.
Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT) Kota Tasikmalaya, Tatang Pahat mengatakan bahwa tantangan berikutnya yang tidak kalah krusial adalah masalah regenerasi. Saat ini, katanya, semakin sedikit generasi muda yang tertarik menekuni profesi sebagai perajin anyaman bambu.
“Perubahan orientasi pekerjaan dan keterbatasan nilai ekonomi dari kerajinan tradisional menjadi faktor utama yang mendorong mereka mencari mata pencaharian lain. Situasi ini menjadi pengingat penting bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya lewat slogan mencintai tradisi, melainkan butuh ekosistem nyata yang mampu menjamin kesejahteraan para pelakunya,” tuturnya, Jumat (17/7/2026).
Lanjutnya, Keberlangsungan kerajinan anyaman bambu memerlukan dukungan yang menyeluruh. Mulai dari kepastian bahan baku, akses pembiayaan, penguatan pasar, inovasi produk, hingga pendidikan regenerasi.
“Upaya pelestarian ini baru akan terasa bermakna jika berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat yang menjadi garda terdepan penjaga tradisi,” tambah Tatang.
Dengan tegas, Tatang mengatakan bahwa Situ Beet memberikan pelajaran berharga bahwa kebudayaan tidak boleh hanya hidup melalui festival, pameran, atau seremoni sesaat. Kebudayaan akan tetap bertahan apabila mendapat perhatian nyata melalui kebijakan yang berpihak kepada para pelaku budaya serta lingkungan yang menopangnya.
“Berangkat dari kegelisahan tersebut, DKKT akan menyelenggarakan Kibar Budaya DKKT 2026 di Situ Beet pada 25 Juli 2026 mendatang. Melalui festival ini, DKKT ingin mengetuk kembali perhatian publik terhadap potensi sekaligus tantangan yang dihadapi sentra anyaman bambu legendaris ini,” jelasnya.
Festival ini diharapkan menjadi ruang apresiasi, edukasi, dan kolaborasi untuk memperkuat kesadaran bahwa pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Terangnya, Beragam sajian menarik akan ditampilkan dalam festival ini. Mulai dari pertunjukan seni tradisi, musik, tari, teater, sastra, seni rupa, hingga penampilan kreasi seni masyarakat Mangkubumi yang merepresentasikan kekayaan budaya Tasikmalaya. Lebih dari itu, Kibar Budaya menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengenal, mengapresiasi, dan meneruskan nilai-nilai budaya lokal di tengah derasnya arus modernisasi.
“Situ Beet bukan sekadar tempat yang menyimpan sejarah kerajinan bambu, tetapi juga menjadi simbol bahwa identitas budaya memerlukan perhatian dan tindakan bersama. Menjaga anyaman bambu berarti menjaga pengetahuan, keterampilan, dan ingatan kolektif masyarakat Tasikmalaya agar tetap hidup dan kokoh diwariskan kepada generasi mendatang,” tutupnya. Asti
