
Tasikmalaya, AddNews.id – Berbagai upaya dilakukan untuk memerangi stunting termasuk di Bulan Suci Ramadhan. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melalui Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Tasikmalaya percepat penuntasan stunting.
Sebuah inovasi baru tersebut dibuat agar percepatan penurunan angka stunting bisa ditempuh. Pesta Telur jadi program andalan yang mudah dijalankan masyarakat.
Pesta telur sendiri singkatan dari Program Ekonomi dan Stunting Terpadu melalui Budidaya Ayam Petelur. Program ini jadi upaya menggabungkan peningkatan gizi keluarga sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Persoalan stunting itu harus bergerak semua pihak. Kami pemerintah daerah bersama beebagai pihak terus memaksimalkan ikhtiar untuk penurunan stunting,” kata Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) pada Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Tasikmalaya, Yanti Permayanti, Sabtu (7/3/2026).
Lanjutnya, Program ini menghadirkan konsep budidaya terpadu yang mengombinasikan peternakan ayam petelur, budidaya maggot, serta kolam ikan dalam satu sistem rak vertikal terpadu.
Melalui sistem tersebut, setiap komponen saling terhubung sehingga mampu menciptakan ekosistem produksi pangan yang efisien sekaligus berkelanjutan.
“Pesta Telur merupakan inovasi di bidang pengendalian penduduk dan keluarga berencana yang difokuskan pada penanganan stunting melalui pendekatan ekonomi keluarga,” kata Yanti Permayanti.
Menurut dia, program tersebut dirancang untuk membantu keluarga yang memiliki balita stunting maupun ibu hamil agar memiliki akses terhadap sumber protein sekaligus peluang tambahan penghasilan.
“Program ini bertujuan menurunkan angka stunting di Kabupaten Tasikmalaya. Salah satu penyebab stunting adalah kondisi sosial ekonomi keluarga yang masih rendah, terutama pada keluarga yang memiliki balita atau ibu hamil. Karena itu, kami menggagas PESTA TELUR sebagai solusi untuk menjawab dua persoalan sekaligus, yaitu gizi dan ekonomi,” ujar Yanti.
Dalam pelaksanaannya, setiap keluarga sasaran program akan mendapatkan bantuan 15 ekor ayam petelur lengkap dengan kandang berbentuk paralel vertikal. Kandang tersebut dirancang bertingkat dengan tiga fungsi sekaligus. Pada bagian paling atas ditempatkan ayam petelur sebagai sumber produksi telur.
Sementara di bagian tengah kandang digunakan untuk budidaya maggot atau larva lalat yang berfungsi sebagai pakan alternatif bernutrisi tinggi. Sedangkan pada bagian paling bawah disiapkan kolam ikan.
Yanti menjelaskan, konsep tersebut dibuat agar tercipta hubungan simbiosis mutualisme antara ketiga komponen budidaya tersebut.
“Dengan sistem ini kebutuhan pakan ayam, ikan, dan maggot bisa saling mendukung. Maggot dapat menjadi sumber pakan protein bagi ayam dan ikan. Sementara untuk budidaya maggot sendiri, kami sudah bekerja sama dengan program MBG setempat untuk menyediakan limbah organik sebagai bahan pakan maggot,” jelasnya.
Melalui sistem tersebut, satu kandang diharapkan mampu menghasilkan sekitar 15 butir telur setiap hari. Telur yang dihasilkan juga memiliki nilai gizi tinggi karena ayam diberi pakan organik yang diperkaya dengan maggot.
“Telur yang dihasilkan kaya protein, omega 3, dan DHA. Karena proses pemeliharaannya menggunakan pakan organik yang sehat. Ini bisa dimanfaatkan masyarakat ” katanya.
Hasil produksi telur tersebut nantinya akan dimanfaatkan langsung oleh keluarga penerima manfaat. Sekitar lima butir telur dapat dikonsumsi oleh keluarga sebagai sumber gizi harian, terutama bagi ibu hamil dan balita.
“Sementara 10 butir lainnya dapat dijual untuk menambah pendapatan keluarga,” ujat Yanti.
Selain bantuan sarana budidaya, pemerintah juga menyiapkan pendamping khusus untuk memastikan program berjalan efektif.
Pendamping tersebut bertugas memberikan bimbingan teknis mulai dari perawatan ayam, budidaya maggot, hingga pengelolaan hasil produksi.
Dengan konsep terpadu tersebut, pesta telur diharapkan tidak hanya membantu memperbaiki asupan gizi keluarga, tetapi juga mampu menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus menjadi salah satu strategi inovatif dalam menekan angka stunting di Kabupaten Tasikmalaya. Ndhie
