
Tasikmalaya, AddNews.id – Sejumlah perwakilan warga yang diwakili Ketua RT 06 Dede Misbah dan Ketua RW 15 Asep Kusmawan mendatangi SMPN 6 Kota Tasikmalaya. Kedatangannya disambut langsung Kepala Sekolah Dr. Aa Suryana,S.Pd., M.M.
Agenda utama adalah meminta agar sekolah memindahkan langganan suplai Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Cilembang 2 ke SPPG Cilembang 3.
“Kami menginginkan SMPN 6 menjadi penerima manfaat SPPG Cilembang tiga. Dampaknya ke ekonomi dan sosial lingkungan kami terasa sekali,” ujar Ketua RT Dede Misbah saat ditemui Rabu 26 Agustus 2026.
Warga RW 15 yang terdiri dari 7 RT ini memberi 3 alasan utama:
1. Lokasi Strategis
Dapur SPPG Cilembang 3 berada di RT 06 / RW 15, satu wilayah dengan SMPN 6.
“Karena dekat, makanan sampai ke tangan siswa dalam kondisi masih hangat dan segar. Kualitasnya terjaga,” kata Dede.
2. Pemberdayaan Warga Lokal
Poin yang paling dibanggakan: 90% – 95% karyawan dapur adalah warga RW 15.
“Penyebarannya merata dari 7 RT. Bahkan beberapa orang tua siswa SMPN 6 juga ikut bekerja di dapur. Jadi selain anaknya dapat makan bergizi, orang tuanya dapat penghasilan,” jelas Asep Kusmawan.
Keberadaan pekerja lokal juga jadi pengawas. “Kalau yang masak tetangga sendiri, otomatis kita ikut jaga kualitas menunya untuk anak-anak,” tambah Dede.
3. Menjawab Keluhan Menu
Warga dan siswa mengeluhkan menu saat ini kurang sesuai selera anak.
Menanggapi hal itu, Kepala SMPN 6 Kota Tasikmalaya, Dr. Aa Suryana mengatakan, bahwa anak-anak bilang, ini makanan guru bukan makanan anak. “Ada oseng-oseng, mereka tidak suka. Sampai dibuang di tempat sampah,” ujar Dr. Aa Suryana menirukan keluhan siswa.
Dr. Aa Suryana menegaskan, sekolah hanya berposisi sebagai penerima manfaat. Ia mendukung penuh usulan warga selama dilakukan secara resmi.
“Kalau bagi Bapak mah, mangga-mangga saja. Toh siswa di sini kan warga orang sini juga,” ucapnya.
Namun ia mengingatkan ada MoU dengan penyedia saat ini yang berlaku sampai 31 Desember.
“Hal itu harus dirapi-rapikan. Jangan sampai seolah-olah Bapak yang melanggar. Dari Pak RT/RW ini murni usulan orang tua murid dan para siswa,” jelasnya.
Ia juga menekankan inti dari MBG: anak. “Presiden bilang supaya anak sehat, gemuk, berisi, tidak stunting. Jadi kalau anak ingin sosis, ya porsi anak-anak sosis,” ujarnya.
“Intinya siapa pun penyedianya, dari mana pun, siap. Yang penting mah anak, keinginannya terakomodir,” tutup Dr. Aa.
Asep Kusmawan berharap model ini bisa terus dikembangkan. “Semoga program pemerintah ini benar-benar dirasakan manfaatnya sampai ke akar rumput,” katanya.
Kehadiran Dapur MBG di Cilembang membuktikan, ketika program pusat bertemu potensi lokal, hasilnya bisa bergizi untuk perut siswa, dan juga menggerakkan ekonomi warga. EQi
