
Tasikmalaya, AddNews.id – Sabtu (14/02). Ikan bandeng atau yang dikenal dengan nama latin (Chanos chanos) merupakan salah satu ikon yang identik dengan perayaan Imlek. Pada saat menyambut Imlek, permintaan terhadap ikan bandeng, terutama yang berukuran besar meningkat tajam. Aktivitas jual-beli ikan bandeng di pasar lokal terlihat ramai seiring meningkatnya permintaan konsumen terhadap ikan ini. Ikan bandeng yang banyak dicari untuk perayaan Imlek adalah yang berukuran besar, sekitar 1-3 kg/ekor, dengan harga mencapai 45 ribu-75 ribu rupiah per ekor.
Aspek Filosofis Ikan Bandeng
Bagi orang Tionghoa, ikan bandeng memiliki makna penting dalam perayaan Imlek, karena merupakan simbol bagi kemakmuran. Dalam bahasa Mandarin, “ikan” disebut dengan kata “yu” yang berarti rezeki. Dibandingkan dengan ikan payau lainnya, ikan bandeng mempunyai struktur duri yang banyak dan rapat. Hal ini justru dimaknai oleh kaum Tionghoa sebagai “perangkap” bagi rezeki agar tidak mudah lepas dan akan banyak terjaring dalam duri, sekaligus mengingatkan untuk selalu waspada dengan rintangan dalam kehidupan. Lapisan lemak yang tebal pada ikan bandeng ukuran besar juga menjadi simbol rezeki yang berlimpah dari ikan bandeng. Demikian pula dalam penyajiannya, bandeng imlek diolah utuh dari kepala sampai ekor, konon melambangkan utuhnya harapan rezeki yang mengalir dari awal hingga akhir tahun.
Kandungan Nutrisi yang Baik
Sebagai sumber protein hewani, ikan bandeng merupakan ikan yang memiliki keunggulan tinggi dalam hal kandungan gizinya Dalam 100 gram daging ikan bandeng, terdapat 129 kkal energi, protein (20 g), lemak (4,8 g), vitamin A 150 SI, vitamin B1 0,05 mg. Selain kandungan proteinnya yang tinggi, ikan bandeng mengandung asam lemak omega 3 yang baik untuk kesehatan. Bagi nutrisi orang dewasa, asam lemak omega 3 merupakan lemak tidak jenuh (unsaturated fatty acid) yang melindungi jantung dari penebalan dinding jantung (arteriosklerosis), dan tidak menimbulkan penyumbatan pada aliran darah. Lebih lanjut, asam lemak omega 3 juga bersifat hipokolesterolemik, yaitu mampu menurunkan kolesterol darah. Sedangkan bila diberikan pada menu balita, protein ikan bandeng mudah dicerna oleh saluran pencernaan yang masih muda, dan omega 3 dalam ikan bandeng membantu proses perkembangan jaringan otak serta pematangan sistem syaraf.
Toleransi Lingkungan yang Tinggi
Habitat di air payau dan menyukai perairan yang dangkal dan memiliki vegetasi mangrove, yang berfungsi melindungi telur dan benihnya dari predator. Benih ikan bandeng lebih dikenal dengan istilah “nener”. Berdasarkan food habitnya, ikan bandeng merupakan ikan herbivora; makanannya dapat berupa klekap yang tumbuh di pematang kolam, fitoplankton jenis Chlorophyceae dan Diatomae, lumut, ganggang dan akar-akar tumbuhan yang mulai membusuk. Karena sifat makannya tersebut, ikan bandeng seringkali dibudidayakan sebagai ikan penyela (polikultur) dengan udang dan rumput laut, untuk mempertahankan kualitas air dari peningkatan fitoplankton dan klekap akibat bahan organik dalam tambak. Selain sebagai ikan konsumsi, sisik tubuhnya yang berwarna perak dan berkilat membuat bandeng juga digunakan sebagai ikan umpan, terutama untuk penangkapan tuna di laut lepas. Kilatan dari sisiknya saat terkena sinar akan menjadi daya tarik bagi ikan lain untuk memangsa bandeng saat dijadikan umpan.
Ikan bandeng pada awalnya banyak dibudidayakan di tambak. Namun dalam perkembangannya, bandeng mulai dapat dibudidayakan di perairan lainnya, seperti di danau dan laut. Hal ini disebabkan karena ikan bandeng memiliki toleransi terhadap lingkungan yang tinngi, terutama toleransi terhadap salinitas (euryhaline), yaitu sebesar 0-45 ppm.
Adanya bandeng salin yang tahan terhadap salinitas rendah, memungkinkan bandeng dapat dibudidayakan di danau-danau bersalinitas rendah dan meningkatkan produksi ikan bandeng nasional. Demikian pula berkembangnya budidaya ikan bandeng di Karamba Jaring Apung (KJA) laut yang digadang-gadang sebagai ikan bandeng premium, makin meningkatkan produktifitas budidaya bandeng. Berdasarkan hasil penelitian Hakim (2024), ikan bandeng hasil budidaya di KJA laut memiliki kelebihan dalam beberapa hal, seperti : rasa yang lebih gurih dan tak berbau lumpur, kandungan protein lebih tinggi, tekstur daging lebih padat dan ukuran yang lebih besar dan seragam. Hal ini sangat sesuai untuk meningkatkan produksi nasional ikan bandeng yang mencapai 792.863 ton di tahun 2024 (KKP, 2025)
Setelah mengetahui keunggulan dari sisi filosofi dan gizi ikan bandeng tersebut, maka pantas lah bila ikan tersebut terpilih sebagai simbol perayaan Imlek. Semoga berkah tersebut tidak hanya menjadi milik warga Tionghoa yang merayakannya, tetapi juga bagi umat manusia pada umumnya.** Oleh: Yuli Andrian (Kepala Departemen Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran)
