NGARUMAT HULU CAI: PERINGATAN HARI BUMI 2026 JADI MOMENTUM KRITIK TERBUKA ATAS KRISIS LINGKUNGAN DI TASIKMALAYA

Foto: Ist

Tasikmalaya, AddNews.id – Peringatan Hari Bumi 2026 di Kota Tasikmalaya tidak lagi sekadar seremoni tahunan. Melalui kegiatan “Ngarumat Hulu Cai”, masyarakat menyuarakan kegelisahan sekaligus kritik terbuka terhadap kondisi lingkungan yang kian mengkhawatirkan, khususnya di wilayah hulu sebagai sumber kehidupan.

Fakta di lapangan menunjukkan adanya penurunan kualitas lingkungan yang nyata: berkurangnya tutupan vegetasi, melemahnya daya serap tanah, serta menurunnya debit mata air. Kondisi ini menjadi alarm serius yang tidak bisa diabaikan, karena jika hulu rusak, maka krisis di hilir hanya tinggal menunggu waktu.

Leluhur Sunda telah lama mengingatkan:
“Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak.”
Namun hari ini, peringatan tersebut seolah kalah oleh praktik pembangunan yang belum sepenuhnya berpihak pada keberlanjutan lingkungan.

Ketua Panitia Pongkir Wijaya, menilai bahwa kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan tata kelola. Alih fungsi lahan yang tidak terkendali, lemahnya pengawasan kawasan resapan, serta belum optimalnya keberpihakan kebijakan dan anggaran terhadap lingkungan menunjukkan perlunya evaluasi serius dari Pemerintah Kota Tasikmalaya dan DPRD.

“Krisis ini bukan terjadi secara tiba-tiba. Ini adalah akumulasi dari pembiaran dan lemahnya komitmen. Jika tidak ada langkah tegas, maka risiko krisis air akan menjadi kenyataan,” tegas panitia, Jumat (17/4/2026).

Dalam konteks ini, masyarakat mendorong pemerintah daerah untuk tidak hanya hadir dalam seremoni, tetapi mengambil langkah nyata dan terukur dalam melindungi kawasan hulu.

Ngarumat Hulu Cai = Gerakan Moral dan Aksi Nyata

Kegiatan Ngarumat Hulu Cai bukan sekadar agenda budaya, tetapi gerakan moral yang menggabungkan nilai spiritual, kearifan lokal, dan aksi nyata dalam menjaga sumber air.

Pepatah Sunda menegaskan:
“Cai lain saukur ngalir, tapi ngalantarankeun kahirupan.”

Air bukan sekadar sumber daya, melainkan amanah kehidupan yang harus dijaga bersama.

Tujuan Kegiatan

* Menghidupkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga sumber air
* Melestarikan nilai kearifan lokal sebagai pedoman moral
* Mendorong aksi nyata dalam pelestarian lingkungan
* Membangun harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual

“Nu miara alam, bakal dipiara ku alam.”

Rangkaian Kegiatan

* Kirab budaya keliling Kota Tasikmalaya
* Doa dan ritual Ngarumat Hulu Cai
* Aksi bersih kawasan hulu mata air
* Ritual Budaya Tanam
* Pertunjukan seni dan budaya

Waktu dan Tempat

* Rabu, 22 April 2026
* Mata Air “Gedong Cai”, Gunung Kokosan
* Kel. Cibunigeulis, Kec. Bungursari, Kota Tasikmalaya

Penutup

“Ngarumat Hulu Cai” menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab masyarakat, tetapi juga tanggung jawab negara.

Hari Bumi harus menjadi momentum perubahan, bukan sekadar peringatan simbolik.

Sebagaimana pesan leluhur:
“Urang lain nu boga alam, urang ngan saukur nu nginjeum.”

Jika hari ini diabaikan, maka yang akan diwariskan bukan keberlanjutan melainkan krisis.