
Jakarta, AddNews.id – Dilansir BeritaSatu.com terkait berita gelombang unjuk rasa besar-besaran di sejumlah daerah terjadi sejak 25 Agustus hingga awal September 2025.
Demo memprotes kebijakan pemerintah yang tidak prorakyat dan besaran tunjangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) itu berubah menjadi kerusuhan hingga penjarahan.
Korban berjatuhan dari kalangan pendemo dan aparat keamanan, serta menimbulkan kerugian amat besar.
Demo berawal dari seruan aksi 25 Agustus yang tersebar melalui grup-grup WhatsApp dan berbagai platform media sosial. Seruan demo, antara lain berawal dari kekecewaan publik atas pemberian tunjangan perumahan Rp 50 juta sebulan bagi anggota DPR.
Pemicu lainnya adalah pernyataan dan sikap beberapa anggota DPR belakangan ini yang dinilai tidak berempati terhadap kondisi sebagian besar rakyat yang mengalami kesulitan ekonomi.
Ratusan orang kemudian berunjuk rasa di depan gedung DPR/MPR, Senayan pada Senin 25 Agustus lalu. Awalnya berlangsung damai, tetapi belakangan ricuh.
Bentrokan massa dengan aparat keamanan berlangsung sampai malam. Sebanyak 351 orang ditangkap, 196 di antaranya pelajar di bawah usia 18 tahun.
Setelah aksi buruh bubar, datanglah massa mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya ke depan gedung DPR menyuarakan keresahan masyarakat atas sejumlah kebijakan pemerintah yang mencekik rakyat, seperti kenaikan pajak, mahalnya harga barang dan biaya hidup, lemahnya daya beli, PHK di mana-mana, sulitnya mendapatkan pekerja, kesenjangan ekonomi yang semakin kentara, hingga mendesak pembatalan kenaikan tunjangan DPR.
Demo awalnya berjalan damai. Ketegangan muncul pada sore hari, saat aparat mempertebal pengamanan dan sekelompok remaja mencoba memanjat pagar DPR, melempar batu dan botol ke arah polisi. Bentrokan pun terjadi. Polisi mulai bertindak represif, mengerahkan water cannon, kendaraan taktis (rantis), menembakkan gas air mata, dan memukul massa.
Pendemo melawan dengan lemparan batu, kayu, botol, petasan hingga bom molotov ke arah polisi. Massa yang makin beringas turut merusak fasilitas umum. Arus lalu lintas di jalan sekitar Senayan, Palmerah, dan Slipi, lumpuh. Stasiun Palmerah ditutup sementara.
Bentrokan berlanjut hingga dini hari. Saat massa dipukul mundur sampai ke Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025) malam, sebuah rantis Brimob menabrak dan melindas seorang pengemudi ojek online (ojol) Affan Kurniawan yang sedang kebingungan di tengah jalan melihat massa berlarian. Affan akhirnya meninggal dunia.
Kematian Affan yang viral di media sosial menimbulkan gejolak kemarahan. Aksi pun meluas. Pada Jumat (29/8/2025), massa terdiri dari pengemudi ojol dan masyarakat mendatangi Mako Brimob, Kwitang, Jakarta Barat menuntut keadilan.
Kerusuhan terjadi di sana. Massa bentrok dengan polisi dalam demo yang terus berlanjut hingga Minggu (31/8/2025) dini hari. Massa merusak sejumlah fasilitas umum dan kendaraan. Pos polisi hingga kantor Polres Metro Jakarta Timur ikut dibakar.
Gelombang unjuk rasa meluas ke daerah lain, mulai dari Banda Aceh, Medan, Jambi, Padang, Palembang, Bekasi, Cianjur, Bandung, Cirebon, Pekalongan, Solo, Semarang, Yogyakarta, Blitar, Surabaya, Yogyakarta, Kediri, Pontianak, Samarinda, Makassar, Gorontalo, Ternate, Ambon, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Nusa Tenggara Timur.
“Kami mencatat ada 107 titik aksi di 32 provinsi sejak 25 Agustus 2025,” kata Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian di Jakarta, Selasa (2/9/2025).
Kemendagri menyebutkan demo berujung kerusuhan terjadi di sembilan provinsi, yakni Sumatera Utara, Jakarta, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan NTB.
Massa ikut merusak hingga membakar gedung DPRD, kantor perkantoran, kantor polisi, dan sejumlah fasilitas umum. Banyak pendemo dan polisi luka-luka akibat bentrokan. EQi
